Cerita Kami
Sempat berhenti. Lalu kembali.
Dari Bellami ke Bell Amico. Nama yang tumbuh, dan dua orang yang akhirnya punya waktu untuk mewujudkannya.

Inspirasi
Celah yang selalu ada.

Coco Lie tahu persis frustrasi itu. Tas dengan bahan yang benar-benar terasa solid — kulit yang tidak mengendur setelah sebulan dipakai, jahitan yang rapi di sudut-sudut yang biasanya diabaikan, struktur yang tetap tegak setelah ratusan kali dibuka-tutup — hampir selalu datang dengan harga yang jauh dari jangkauan kebanyakan orang. Sementara tas di harga yang lebih masuk akal hampir selalu memakai bahan yang terasa seperti kompromi sejak hari pertama.
Di pasar tas Indonesia, dua hal itu jarang bertemu di produk yang sama. Kamu bisa punya kualitas bahan, atau harga yang wajar. Jarang keduanya. Coco melihat celah itu sejak lama, dan Bell Amico dibangun tepat di sana: kulit sintetis grade tinggi yang dipilih dengan standar ketat, dijual di harga yang memang bisa dijangkau oleh banyak orang. Itu pilihan yang Coco buat dari awal dan tidak pernah ia kompromikan.
Kulit sintetis grade tinggi adalah DNA Bell Amico. Kami memilih bahan yang sama yang dipakai brand-brand dengan harga dua hingga tiga kali lipat, lalu merancang struktur yang memaksimalkan bahan itu. Hasilnya adalah tas yang terasa jauh lebih baik dari harganya — dan itu keputusan yang kami pertahankan di setiap produk yang keluar.
Perjalanan
Dua kali dicoba.
Coco Lie mulai dari sepatu di 2011. Dua tahun kemudian ia beralih ke tas vintage — sesuatu yang terasa lebih tepat, lebih dekat dengan gambaran yang selama ini ada di kepalanya. Bisnis itu Coco tinggalkan di 2014 karena satu hal yang ia harus prioritaskan.
Tahun berikutnya ia coba lagi dengan nama Bellami. Kali ini ia membangun lebih serius, dengan identitas yang lebih jelas dan arah yang lebih terarah. Bellami berjalan satu setengah tahun, cukup lama untuk membuktikan bahwa idenya bisa hidup. Kemudian hidup membawanya pergi dari Jogja untuk beberapa tahun, dan Bellami berhenti.
Selama tahun-tahun itu Coco tidak berhenti sepenuhnya. Ia terus mengumpulkan referensi, menyimpan sketsa, dan dalam jarak yang jauh terus berbicara dengan Sanjaya Wu. Sanjaya adalah bagian yang selama ini kurang dari puzzle itu — ia punya latar belakang teknologi, marketing, dan kemampuan membangun sistem distribusi yang Coco tidak miliki, dan itu persis yang dibutuhkan untuk mengubah folder penuh sketsa menjadi brand yang bisa berdiri dan menjangkau orang. Percakapan mereka berlangsung bertahun-tahun, sampai akhirnya Coco kembali ke Jogja dan puzzle itu bisa disusun.

Asal Usul
Dibawa dari rumah.

Coco besar di keluarga batik di Jogja Selatan. Di lingkungan itu, ia tumbuh dengan pemahaman bahwa bahan yang baik bisa dirasakan dengan tangan, bukan dibaca dari label. Berapa tebalnya, apakah ia akan tetap pegang bentuk setelah bertahun-tahun, di mana ia akan mulai menunjukkan kelelahan lebih dulu. Pengetahuan itu tidak datang dari kelas desain. Ia datang dari bertahun-tahun memperhatikan.
Itulah yang Coco bawa ke Bell Amico. Coco punya desain, mata untuk memilih bahan, dan pemahaman tentang kualitas yang tidak bisa dipelajari dari buku teks. Sanjaya Wu melengkapi sisi yang belum ada: cara membangun sistem teknologi, cara menjangkau orang lewat marketing, cara membuat sebuah brand bisa berdiri dan dikenal. Dua sisi yang berbeda, satu brand yang akhirnya bisa jalan. Mereka memulainya di Jogja Selatan, dari desain-desain yang sudah menunggu bertahun-tahun.
Nama Bell Amico tumbuh dari nama lama: Bellami. Ketika puzzle itu akhirnya lengkap dan keduanya siap membangun dari awal lagi, namanya ikut berkembang. Amico artinya teman dalam bahasa Italia. Kami memilih kata itu karena itulah fungsi nyata dari tas yang benar-benar bagus: ia menemanimu setiap hari, setia meski tak selalu kau sadari, dan kamu akan merindukannya saat dia jauh darimu.
Koleksi
Ada satu yang sudah
pasti cocok untukmu.
Kulit sintetis grade tinggi. Harga yang masuk akal.
Lihat Koleksi